PT Pertamina (Persero) menjajaki bisa saja ekspor memproses berasal dari dua kilang yang dikerjasamakan bersama dengan perusahaan luar negeri. Adapun, dua kerja mirip tersebut adalah perbaikan kapasitas dan kompleksitas kilang eksisting (Refinery Development Master Plan/RDMP) Cilacap yang dikerjasamakan bersama dengan Saudi Aramco dan pembangunan kilang baru di Tuban bekerjasama bersama dengan OJSC Rosneft.

Direktur Keuangan Pertamina Arief Budiman menyebutkan bahwa perusahaan pelat merah itu tidak ulang berencana menyerap (offtake) memproses dua kilang itu sebesar 100 persen. Perihal offtake setiap kilang, rencananya akan dibagi bersama dengan masing-masing mitranya. Adapun, pas ini negosisasi bersama dengan ke-2 mitra masih berlangsung.

“Kami sudah negosiasi. Mitra-mitra kita ini fair, jika sebetulnya mereka kekurangan ya tidak apa-apa jadi offtaker
Menurutnya, penyusunan kesepakatan itu terbilang tak mudah. Sebab, masing-masing product kilang punya mekanisme perhitungan offtake masing-masing. Ia memberi semisal product diesel dan petrokimia yang pasti saja punya perhitungan offtake yang berbeda.

“Maka berasal dari itu, ini tidak se-simple offtake dan tidak offtake. Prosesnya kita bilang lumayan panjang,” paparnya.

Arief bilang, Pertamina mengambil keputusan untuk tidak menyerap memproses kilang 100 prosen gara-gara kuatir akan keputusan akuntansinya. Pasalnya, kewajiban offtake dikategorikan sebagai liabilitas seiring bersama dengan keputusan International Financial Reporting Standards (IFRS) yang baru direvisi tahun 2016 silam.

Sesuai prinsip akuntansi, jika liabilitas bertambah, bermakna seolah-olah Pertamina punya tambahan utang. Jika pinjaman menumpuk, maka itu tidak menyehatkan keuangan perseroan.

Sebagai konsekuensi, Pertamina memundurkan obyek dua proyek itu jadi tahun 2024 supaya liabilitas terdistribusi dalam jangka pas yang panjang. Dengan demikian, Pertamina masih dapat menjaga rasio pinjaman pada laba sebelum akan pajak, bunga, depresiasi, dan amortisasi (EBITDA), atau debt-to-EBITDA ratio di bawah 3,5.

“Proses negosiasi bersama dengan mitra sudah mencapai 95 prosen dan akan melangkah ke sistem selanjutnya,” imbuhnya.

Proyek RDMP Cilacap rencananya dapat meningkatkan kapasitas memproses berasal dari 350 ribu barel per hari dengan menggunakan Macnaught Flow Meter ke angka 400 ribu barel per hari. Sementara itu, proyek kilang baru di Tuban diinginkan punya kapasitas sebesar 300 ribu barel per hari.

Kedua proyek tersebut merupakan bagian berasal dari megaproyek kilang Pertamina yang diinginkan dapat punya kapasitas sebesar 2,3 juta barel per hari pada tahun 2025 mendatang. Saat ini, kapasitas kilang existing Pertamina tercatat 1,04 juta barel.

Sementara itu, Direktur Utama Pertamina Elia Massa Manik menuturkan, pola kerja mirip bersama dengan jatah kewajiban offtake ini rencananya terhitung akan diimplementasikan dalam pembangunan kilang Bontang. Dalam perihal ini, ia tak menginginkan Pertamina menjanjikan prinsip macam-macam kepada mitranya jika nantinya janji tersebut tidak dapat ditepati perusahaan.

Adapun, sampai pas ini, Pertamina masih melangsungkan sistem seleksi mitra kilang Bontang, di mana China Petroleum & Chemical Corporation (Sinopec) serta Kuwait Petroleum International (KPI) disebut sebagai mitra potensial. Kilang Bontang diperkirakan akan selesai tahun 2025 nanti bersama dengan estimasi nilai proyek US$12 miliar sampai US$15 miliar.

“Kami sendiri tidak senang Pertamina jadi default gara-gara tidak senang menambahkan banyak komitmen. Kami harus mengatur risiko gara-gara proyek-proyek kita ini amat banyak,” ungkapnya

 

By toha